-->

Jangan Ucapkan Ini Kepada Orang Depresi


1. Hindari kalimat : “Selalu ada orang di luar sana yang lebih menderita daripada kamu”

Atau “Yah, apa boleh buat. Hidup memang tidak adil,”
atau “Lihatlah sisi baiknya, setidaknya kamu masih diberikan tubuh sehat.”

Ini sangat benar, tapi mengetahui bahwa beberapa orang memiliki luka bakar tingkat tiga tidak membuat luka pasien luka bakar tingkat pertama merasa lebih tidak sakit; masalah yang dimiliki orang lain tidak membuat masalah kamu menghilang begitu saja. Pahamilah, karena kamu sedang berbicara dengan orang yang depresi.

“Depresi adalah gangguan yang sangat umum,” kata dr. Harold Koenigsberg, seorang psikiatrik dan profesor psikiatri dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York, dilansir dari Upworthy. Dia menjelaskan bahwa sekitar 1 dari 4 wanita dan 1 dari 6 pria menderita depresi berat di beberapa titik dalam hidup mereka. Statistik ini berarti cukup mungkin bagi kita semua untuk tahu seseorang yang pernah berurusan dengan depresi pada satu titik di hidupnya.

Kita harus memahami bahwa kapasitas setiap orang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa orang yang bercerai tidak lebih sedih dari orang yang keluarganya hilang ditelan ombak tsunami.  Setiap orang punya kapasitas masing-masing dalam menerima beban hidup.

Katakan ini saja:
“KAMU TIDAK SENDIRIAN. SAYA DI SINI UNTUKMU.”



2. Hindari kalimat : “Kamu kurang bersyukur sama hidup”

Saya memiliki “gratitude box” di kamar saya dimana setiap harinya saya menuliskan tiga hal yang bisa saya syukuri dari hidup saya. Meskipun begitu, saya masih depresi. Kenapa? Karena depresi bukan tentang bersyukur saja. Orang-orang dengan depresi klinis memiliki rasa rendah diri yang besar, memiliki perasaan bersalah yang tinggi, dan bahkan memiliki keinginan untuk mati. Terkadang hal-hal tersebut tidak bisa mereka kendalikan.



3. Hindari kalimat : “Mungkin kamu kurang dekat sama Tuhan”

Saya memiliki teman yang ketika sedih langsung ke gereja, tetapi ia juga masih bisa mengalami depresi dan panic attack. Teman saya, seorang Buddhist, sering berlatih meditasi namun juga melakukan self-cutting. Teman saya yang lainnya, seorang Muslim yang rajin puasa Senin-Kamis, ternyata sudah terserang depresi klinis selama tiga tahun lamanya. Jadi, depresi bisa menyerang siapa saja. Terkadang, pernyataan seseorang sedih karena kurang dekat dengan Tuhan malah membuat kami ingin menjauh dari Tuhan. Kami sedang sakit, kami sudah rajin ibadah semampu kami, tetapi orang-orang masih judgmental bahwa kami kurang dekat dengan Tuhan.

Depresi bisa menyerang siapa saja; bahkan orang-orang kaya raya dengan orang tua lengkap yang penyayang. Belum lagi kita hidup di zaman yang serba menuntut kita untuk buru-buru, sehingga otak kita jarang memiliki kesempatan untuk benar-benar istirahat dari segala macam pikiran. Belum lagi, hal-hal kecil yang menumpuk dipikiran itu juga bisa menimbulkan depresi.



4. Hindari kalimat : “Sama dong, aku dulu juga pernah depresi gara-gara […]

Jika Anda benar-benar pernah terjerat depresi dan berhasil keluar, mendengar komentar ini dari seseorang yang memiliki pengalaman yang sama bisa menjadi sangat berarti bagi seseorang yang merasa bahwa tidak ada satupun yang mengerti mereka, atau merasa terlalu malu untuk berbicara tentang situasi mereka.

Tapi, jika Anda sekadar mengatakannya untuk “menenangkan” tanpa tahu persis apa yang dialami oleh seseorang yang depresi, komentar ini benar-benar dapat berkesan MERENDAHKAN. Merasa tertekan sebagai individu yang sehat sangat berbeda dari depresi klinis: salah satunya adalah kondisi kronis yang bisa berlangsung bulanan hingga tahunan, sementara yang lain adalah insiden terpisah, sehingga tak mungkin untuk menyamaratakan keduanya. Anda pernah mengalami situasi yang Anda pikir mirip/memicu depresi, berkabung misalnya, tetapi Anda tidak benar-benar menghadapi “hantu” yang mengekang orang yang depresi setiap hari.

Meskipun mereka sering tumpang tindih, kesedihan saat berduka dan depresi BUKANLAH HAL YANG SAMA. Orang yang depresi berjuang untuk mendapatkan secercah harapan untuk bulanan dan tahunan, sesuatu yang Anda benar-benar rasakan jika Anda pernah memiliki depresi klinis.

Katakan ini saja:
“AKU HANYA BISA MEMBAYANGKAN APA YANG KAMU ALAMI, TAPI AKU AKAN MENCOBA UNTUK MEMAHAMINYA SEMAMPU YANG AKU BISA. KITA BISA DAN AKAN MEMBEBASKANMU DARI PENDERITAAN INI.”



5. Hindari kalimat : “Ah masa sih kamu depresi? Kamu terlihat baik-baik saja/happy terus, kok!. Postinganmu saja terlihat senang terus. ”

Sama seperti ketika Anda memilah-milih filter, angle, dan pencahayaan untuk selfie Anda, orang yang depresi juga menyesuaikan “TOPENG" , saat mereka berada di tempat umum, bersama orang-orang terdekatnya. Beberapa orang sangat ahli menyamarkan depresinya. Sangat mudah untuk memalsukan kebahagiaan, jadi hanya karena teman/anggota keluarga Anda tersenyum lebar, tidak berarti mereka tidak menderita di dalam dirinya.

Hanya karena ia tidak terlihat depresi bukan berarti ia tidak mengalaminya. Kebanyakan orang yang mengidap depresi justru berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja, jadi jangan ucapkan kata-kata ini pada temanmu.

Katakan ini saja:
“BARU-BARU INI SAYA LIHAT KAMU SEDIKIT BERBEDA. ADA APA? BAGAIMANA SAYA BISA MEMBANTU?”



6. Hindari kalimat : “Yaelah, stres aja minum obat. Berlebihan banget kamu”

Depresi klinis bukan hanya masalah kepribadian yang lemah. Buktinya, dokter, psikolog dan psikiater telah mempelajari depresi selama bertahun-tahun. Lalu buat apa adanya mereka? karena memang depresi adalah penyakit yang selain masalah kejiwaan, juga ada hubungannya dengan kondisi medis seseorang.


7. Hindari kalimat : “Udah berkali-kali kamu bilang mau bunuh diri, kapan mati?”

Ada perbedaan antara suicidal thoughts dan suicide attempt. Orang-orang dengan suicidal thoughts sangat mudah sekali memikirkan kematian; ide untuk mati dan bunuh diri sangat menarik bagi mereka yang suicidal. Tanpa disadari, memiliki ide bunuh diri adalah pikiran yang menyiksa. Sayangnya, banyak dari penderita depresi yang tidak tahu bahwa ide bunuh diri adalah hal yang perlu diatasi karena semakin lama bisa berkembang menjadi aksi nyata.

Kalau boleh diibaratkan, ide bunuh diri sama seperti ide untuk menyatakan cinta; ada yang menyimpannya bertahun-tahun, namun ada juga yang langsung melakukan suicide attempt. Tetapi, ide itu selalu ada di kepala mereka.

Jika kamu mengatakan kalimat sperti itu, itu sangatlah salah. Dan bisa membuat fikiran suicidal itu akan cepat terwujud.



8. Hindari kalimat : “Sering-seringlah keluar rumah!” atau “Senyum, kek, sesekali.”

Ini menunjukkan Anda memiliki anggapan yang sederhana — dan salah — tentang depresi. Komentar seperti ini sama saja menyuruh seseorang dengan kaki yang patah, “Mengapa kau tidak mencoba untuk berjalan?”
Jangan memperlakukan depresi seperti pilihan hidup, seolah-olah orang tersebut memilih untuk berada dalam penderitaan konstan. Tidak ada yang memilih untuk menjadi depresi.

Katakan ini saja:
“AKU BENCI MELIHATMU MENDERITA. YUK, IKUT AKU BERMAIN KELUAR ."


9. Hindari kalimat : “Katanya, olahraga ini-itu bisa nyembuhin depresi. Udah pernah coba?”

Kita sering berpikir depresi dapat dengan mudah hilang, tapi depresi adalah kondisi bawaan. Meskipun olahraga dapat membantu menekan suasana hati buruk, ketika seseorang sedang berjuang dengan depresi mungkin akan terlalu sulit untuk bahkan keluar dari tempat tidur selama beberapa hari.

Menyarankan tips mudah seperti jogging atau makan ini-itu untuk menyembuhkan depresi menyiratkan bahwa seseorang yang depresi mungkin tidak mengerahkan segalanya yang ia mampu untuk bisa sembuh, kata Nikki Martinez, PsyD, seorang psikolog dan konselor profesional berlisensi klinis, dilansir dari Prevention. “Berkomentar seperti ini sama saja seperti mengatakan apa yang terjadi bukanlah diakibatkan ketidakseimbangan dalam tubuh atau masalah kesehatan sepele, ketika sebenarnya depresi adalah kondisi kronis,”

Membuat pilihan yang berbeda di masa depan mungkin membantunya menghadapi depresi, tapi pertama-tama, mereka perlu untuk memulihkan diri untuk bahkan membuat keputusan matang.

Katakan ini saja:
 “KAMU SANGAT PENTING UNTUK SAYA. HIDUPMU PENTING BAGIKU. SAAT ANDA MERASA INGIN MENYERAH, KATAKAN PADA DIRIMU SENDIRI BAHWA ANDA AKAN BERTAHAN UNTUK SATU HARI LAGI, SATU JAM LAGI, SATU MENIT LAGI — SEBERAPA LAMA YANG ANDA MAMPU,”
atau
 “SAYA PERCAYA PADAMU, DAN AKU TAHU KAMU MAMPU UNTUK MELEWATI SEMUA INI. SAYA AKAN BERADA DI SAMPINGMU DI SETIAP WAKTU.”



10. Hindari kalimat : “Ah.. itu cuma perasaanmu saja.”

Ya, depresi memang terkait dengan perubahan suasana hati. Namun tidak sesederhana itu. Depresi bukan cuma gejolak perubahan mood sementara, kondisi ini diakibatkan oleh ketidakseimbangan hormon dalam otak. Komentar ini menunjukkan orang yang menderita depresi memiliki kontrol atas penderitaannya — bahwa jika mereka hanya sedikit berusaha untuk berpikir positif, mereka akan merasa lebih baik. Hal ini juga menyepelekan sakit fisik nyata yang dapat disebabkan oleh depresi.

Katakan ini saja:
“SAYA LIHAT BELAKANGAN INI KAMU SEDANG KESULITAN, DAN KEADAANMU BIKIN SAYA KHAWATIR. ADA YANG BISA KULAKUKAN UNTUK MEMBANTU?”



11. Hindari kalimat : “Itu cuma di kepala kamu, cuma pemiikiran kamu aja.”

Lalu dia yang depresi akan menjawab, "Tidak, yang saya alami tidak hanya di kepala saya. Saya merasakannya di hati saya. Di kelopak mata saya yang amat berat menahan sedih dan tak bisa tidur. Di bibir saya yang lelah dipaksa senyum. Di seluruh badan saya yang kehilangan energi. "

Salah satu efek depresi klinis adalah perasaan lelah yang membuat sekujur tubuh rasanya lemas, tak berenergi, dan bahkan sakit. Beberapa orang yang mengalami depresi berat dan anxiety bahkan bisa muntah-muntah, pegal-pegal, dan konstipasi berbulan-bulan.

Walaupun mungkin perasaan temanmu terkesan irasional, itulah yang sedang ia rasakan, dan tidak baik jika kamu membuatnya merasa kalau perasaannya itu tidak benar.



12. Hindari kalimat : “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua akan baik-baik saja.”

Seseorang yang depresi merasa sedih atau buruk tentang banyak hal, namun hal-hal ini tidak menyebabkan depresi mereka.  Depresi tidak selalu disebabkan oleh peristiwa traumatis atau kesedihan tertentu. Kadang, depresi terjadi begitu saja; tidak membuatnya menjadi kurang serius.

Nasihat ini bisa memicu ledakan kecemasan pada orang tersebut. Sekali lagi, berasumsi bahwa depresi terkait dengan peristiwa tertentu atau dipicu oleh kejadian/trauma tertentu menjadikannya senjata makan tuan bagi keinginan Anda untuk mencoba memahami dan berempati pada orang yang Anda pedulikan.

Katakan ini saja:
 “MAAF AKU TIDAK MENYADARI KAMU SEDANG MENDERITA. AKU AKAN SANGAT SENANG UNTUK MENGHABISKAN WAKTU BERSAMAMU, DAN AKU LEBIH DARI BERSEDIA UNTUK MENJADI ‘TEMPAT SAMPAH’ MU UNTUK MENGELUARKAN UNEK-UNEK.
atau “PERNAHKAH TERBERSIT KEINGINAN UNTUK CARI BANTUAN?”



13. Hindari kalimat : “Lupain aja sedihnya”

Kalau segampang itu,seseorang yang depresi tidak akan cerita ke Anda kalau dia punya masalah.



14. Hindari kalimat : “Bahagia itu pilihan”

Apakah ada orang yang memilih untuk menangis jam 3 pagi setiap hari?

Apakah ada yang sengaja minum antidepressants yang efek sampingnya sangat menyiksa?

Tidak ada yang ingin sedih, tidak ada yang ingin depresi, semua orang di dalam hati pasti ingin bahagia.



15. Hindari kalimat : "Saya juga pernah kali depresi, semua orang juga”

Ada perbedaan antara depresi klinis dan sedih biasa. Mungkin yang kamu maksud dengan ‘semua orang pernah mengalami’ adalah masa down karena ada suatu kejadian di hidupmu yang membuat kamu sangat sedih. Saat itu kamu benar-benar sedih dan semua orang tau kamu sedih. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, sedih kamu pun hilang dalam kurun waktu tertentu.

Di sisi lain, yang sebagian dari yang mereka alami adalah depresi klinis. Sama seperti penyakit lainnya, depresi klinis dapat kambuh seperti asthma. Sekali kambuh, seseorang bisa depresi selama 6 bulan.



16. Hindari kalimat : "Kerjaan mu selalu saja mengeluh."

Kamu tidak tahu perasaan temanmu seperti apa, kamu tidak tau masalah dia, kehidupan dia, apa-apa saja yang telah dia lalui, jadi jangan berasumsi kalau ia mengeluh hanya untuk mencari perhatian atau karena dia manja. Kata-kata ini dapat membuat temanmu merasa bahwa depresinya hanyalah masalah sepele.

Cobalah untuk menanyakan apa masalah dia, apa yang bisa kamu perbuat untuk membantu nya, dan pertanyaan kepedulian lainnya.


17. Hindari kalimat : “Bilang aja ya, kalo butuh bantuan.”

Komentar seperti ini sering berniat baik tetapi menghasilkan akhir yang buruk. Jika Anda benar-benar ingin membantu, tindakan Anda harus cocok dengan perkataan Anda. Sangat penting baginya untuk tahu bahwa Anda 100 persen ingin mendukung dan membantunya, bahwa Anda melakukan apa yang Anda JANJIKAN. Jika Anda tidak menindaklanjuti janji-janji,  itu justru akan memicu depresinya makin parah (karena ia berpikir Anda “hanya mempermainkannya dan memberi harapan palsu).

Katakan ini saja:
 “KATAKAN PADAKU APA YANG BISA SAYA LAKUKAN SEKARANG UNTUK MEMBANTU MU.”,
atau “PELAN-PELAN SAJA, SAYA PEDULI DENGANMU ”



18. Hindari kalimat : "Mungkin kamu kurang berdoa."

Kurang berdoa bukanlah alasan teman kamu mengalami depresi. Kamu harus mulai memperlakukan depresi seperti penyakit lainnya, semisal flu. Apakah kamu akan menyuruh penderita flu untuk berdoa lebih banyak? Penderita flu juga akan diberi obat, kan? Nah, sama saja dengan temanmu yang depresi. Pertolongan pertama yang ia butuhkan adalah dari psikolog, psikiater, atau konselor.


19. Hindari kalimat : "Sudah, lupakan saja"

Kata-kata ini akan membuat temanmu merasa kalau penderitaannya itu tidak penting. It is important, dan ia tidak akan bisa mengabaikannya dengan begitu saja. Disaat kamu menyepelakan kondisinya dgn kalimat seperti itu, sementara disisi lain dia sedang berjuang mati-matian untuk bangkit dan bertahan.



20 Hindari kalimat :  “Yaudah sih mati aja”

INI  ADALAH KATA-KATA TERBURUK YANG PERNAH TERLONTAR KEPADA MEREKA YANG DEPRESI.



Masih banyak lagi kata-kata atau komentar yang bisa berdampak negatif pada seseorang yang depresi. Ingat, depresi bukan sekadar perubahan mood sekilas. Depresi adalah kondisi medis serius yang membutuhkan pengobatan profesional. Ulurkan tangan. Bersikap mendukung melibatkan menawarkan semangat dan harapan.

Jadi, untuk sementara dengarkan saja mereka dengan tulus tanpa judgment apa-apa. Jika tidak ada niat ingin membantunya, lebih baik tidak usah berkomentar apalagi yang bersifat menyepelekan.  Karena kita tidak tau kondisi jiwa masing-masing orang. Seringkali  banyak berkomentar malah tidak membantu. Bahasa tubuh seperti pelukan yang bersahabat juga sangat membantu untuk menenangkan. Jika Anda tidak bisa menolongnya lebih jauh, rekomendasikan ia untuk mencari pertolongan professional (dokter, psikolog, psikiater).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel