-->

New Normal or Abnormal?


cungkring.com : Hanya dinegara +62 yang santuy ketika data penderita Covid telah mencapai rekor melebihi China tapi rakyatnya santai-santai saja. Tiap hari berita menunjukkan melonjoknya kasus baru Covid tapi kenyataan didepan mata kehidupan kebanyakan sudah normal kembali kecuali sekolah yang masih ditutup.

Kehidupan ditempat sayapun sudah kembali normal. Orang-orang keluar tetap memakai masker tapi tidak sedikit yang tidak menggunakan masker. Beberapa lembaga pendidikan non formal sudah kembali buka termasuk beberapa TK ada yang sudah mulai kembali belajar langsung. Padahal kakak-kakaknya masih belum bisa sekolah.

Karena melihat keadaan didepan mata bahwa dikotaku khususnya daerah tempat saya tinggal tidak ditemukan pasien positif maka saya akhirnya berani memasukkan anak ke lembaga non formal offline seperti bimbingan Belajar dan kursus lainnya.

Namun jikalau data pemerintah tentang Covid benar adanya, muncul ketakutan jangan-jangan nanti kotaku tercinta akan menjadi Zona Merah atau hitam juga? Mengingat semua kegiatan hampir semua sudah berjalan normal kecuali sekolah. Tidak ada pembatasan wilayah sama sekali. Beberapa kota memang masih perlu surat keterangan sehat untuk masuk, tapi apa sekarang masih tetap perlu surat sakti tersebut?

Misal tempat wisata Pangandaran, pada awalnya pengunjung diwajibkan rapid tes, tapi baru-baru ini rombongan dari daerahku pergi kesana tanpa harus ikut rapid test. Saya sendiri pergi sekeluarga ke tempat wisata tidak ada pembatasan ataupun protokol ketat. Semuanya berjalan normal.

Jadi disini ada data yang tidak singkron. Katanya pasien Covid terus melonjak bahkan sekarang melebihi China, tapi dibilang New Normal, Mall-mall, pasar, cafe, restoran dan lainnya buka normal seperti biasa. Jadi tidak sepenuhnya salah sebagian emak-emak berharap sekolah dibuka kembali, karena mereka melihat kondisi didepan mata berjalan normal.

Jika memang negara ini masih belum aman, masih terdapat kasus baru Covid dan kurvanya cenderung menanjak, kenapa semua sudah kembali dinormalkan (kecuali sekolah)? Harusnya tetap ada pembatasan, minimal karantina wilayah diberlakukan. Jangan bilang New Normal apalagi Normal betulan kalau kenyataannya belum normal.

Jika kembali ada pembatasan lalu bagaimana dengan nasib orang-orang yang terkena dampak langsung? Siapa yang menanggung biaya hidup mereka? Ya pasti pemerintah. Tapi kondisi yang ada tidak mungkin pemerintah kembali menanggung hidup sekian banyak warganya. 


Dari mana biayanya? Utang pemerintah kepada BUMN aja belum bisa bayar, yang ada bahkan rakyat yang harus menanggung ketika tiba-tiba tagihan Listrik naik diluar semestinya, tidak adanya penurunan harga BBM disaat harga minyak dunia anjlok karena Corona dan iuran BPJS terutama kelas 1 & 2 kembali naik.

Jadi apakah kondisi di negara +62 ini New Normal ataukah Abnormal?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel