-->

Belajar Dari Orang Mandailing


cungkring.com : Mandailing adalah salah satu Suku tertua di Sumatera Utara, Suku Mandailing tersebar Di 5 Kabupaten di Sumatera Utara. Diantaranya : Kabupaten Madina  (Mandailing Natal) Ibukota nya Panyabungan , Kota Padang Sidimpuan Ibukota nya Padang Sidimpuan, Kabupaten Tapsel (Tapanuli Selatan ) Ibukotan ya Sipirok, Palas (Padang Lawas) IbuKota nya Sibuhuan, dan  Paluta  (Padang Lawas Utara) Ibukota nya Gunung Tua.

Lima Kabupaten/Kota ini menurut Saya adalah Suku Mandailing, karena Kesamaan Bahasa, adat-istiadat, marga, dan kebiasaannya. Sebagian kecil orang Palas Dan Paluta Lebih senang di Panggil orang Angkola, bahkan Sebagian kecil lagi Lebih senang dibilang Batak. Namun jumlahnya sangat kecil. Pada pembahasannya nanti di Perantauan hampir sama.

Keberadaan Mandailing sudah diperhitungkan sejak abad ke 14, dengan dicantumkannya nama Mandailing pada Sumpah Palapa Gajah Mada, pada Syair ke 13 kakawin Negarakertagama hasil karya Prapanca. Sebagai daerah ekspansi Kerajaan Majapahit Pada tahun 1287 di luar Pulau Jawa.

Mandailing Mayoritas beragama Islam, Hampir 99,9%. Sehingga kehidupan di daerah ini Lebih beradap dan Islami, banyak kita temui di jalanan orang pakai sarung dan serban di kepala.

Tarian Mandailing adalah Tor-tor, alat musiknya bernama Gordang sembilan. Mandailing berada di Pedalaman Sumatera di bawah Bukit Barisan. Jarak tempuh dari Kota Medan  458 km, 11 jam menggunakan Mobil Pribadi. Jarak dari Kota Padang 325 Km, dan butuh waktu 8 jam menggunakan Mobil Pribadi.

Orang-orang Mandailing adalah Orang-orang cerdas dan Suku Pejuang Serta Suka Merantau. Berikut Orang-orang yang kita kenal dari Tanah Mandailing. Mereka dalah Panglima Besar Abdul Haris Nasution, Willem Iskander (Sati Lubis) tokoh Pendidikan Nasional, KH Sobri Lubis Ketua FPI Pusat, bahkan Ustad Prof. Abdul Somad Batubara, Ray Rangkuti (pengamat politik )dan Lain-Lain.

Marga-Marga yang ada Di Mandailing adalah Nasution, Lubis, Rangkuti, Pulungan, Hasibuan, Harahap, Daulay, Batu Bara,Matondang, dan Sebagian Siregar, dan lain-lain.

Orang-orang Mandailing Hampir 72% menjadi Pejabat atau PNS (Pegawai Negeri Sipil) Di Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan. Serta beberapa Orang Berkifrah di kancah  Nasional. Karena sejak kecil mereka ditanamkan untuk menjadi PNS dan menjadi ustad.

Mandailing juga di sebut Kota Santri khususnya di Kabupaten Madina. Karena di sini banyak Pesantren yang melahirkan jutaan santri. Alumninya tersebar hingga ke Arab Saudi, Mesir, Malaysia, Medan, Jakarta, Padang dan Seluruh Nusantara.
Makanya ketika kita Umroh atau Naik Haji banyak guidenya Orang Mandailing.

Di Kementerian Agama Sumatera Utara dan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) mayoritas Pejabat dan Dosennya Adalah Orang Mandailing.

Pesantren tertua Di Mandailing adalah Pesantren Mustofawiyah. Atau orang Menyebut nya Pesantren Purba,  Karena Letaknya Di Desa Purba Baru. Santrinya Kurang Lebih Sepuluh Ribu Orang, yang datang dari seluruh nusantara dan luar negeri.

Selain Jadi Pegawai Dan Ustad , rata-rata orang Mandailing Suka Merantau. Di perantauan mereka bekerja membuka warung. Ditiap kampung anak-anak muda lebih suka merantau daripada  tinggal di kampungnya.

Banyak warga Mandailing merantau ke Pulau Jawa. Biasa mereka menggunakan Bus ALS (Antar Lintas Sumatera ), Bus terbaik dan terbanyak armadanya di Sumatera Utara. Kebetulan Pemilik ALS juga adalah Orang Mandailing Bermarga Lubis.

Di Pulau Jawa, orang Mandailing tersebar di Jakarta, Bekasi, Bogor, Tangerang, Depok, Bandung dan Lain-Lain.  Kebanyakan mereka bekerja membuka warung.

Disana Mereka sering dipanggil Ucok, bahkan warung mereka banyak dibilang warung Batak. Padahahal Mandailing Bukan Batak. Mereka Suku Mandailing dan Agamanya Islam, namun demi sesuap nasi dan segenggam berlian, mereka terima apa adanya.

Yang kita pelajari hari ini bagaimana orang-orang Mandailing sukses atau minimal bisa bertahan hidup di perantauan. Banyak diantara mereka punya rumah, warung, mobil, dan diantara mereka banyak juga yang menjadi Tuan Tanah di kampungnya. Punya sawah yang luas, serta rumah sewa yang banyak.

Mohon maaf agak panjang penjelasan tentang Mandailing ini, biar lebih jelas. Selanjutnya Bagaimana mereka sukses Buka Warung di perantauan ?, Ini dia :

1. Mereka pergi merantau sudah siap mental akan hidup di Kampung orang.

2. Pertama-tama mereka jadi anggota warung (anak buah), bagi saudaranya yang punya Warung. Tanpa gaji, hanya ditanggung makan dan ongkos pulang empat tahun sekali. Dengan perjanjian, setelah 5 tahun mereka akan dibukakan warung.

3. Irit , Karena mereka merantau harus irit, bahkan makan hanya nasi dan telur atau indomie. Pakaian baru hanya beli pada saat mau pulang kampung, empat tahun sekali. Kecuali mereka yg sudah kaya raya.

4. Persaudaraan yang Kuat. Walaupun mereka di kampung gak kenal atau beda daerah/kabupaten, tetapi di rantau seperti saudara kandung, saling bantu- membantu.

5. Arisan, Setiap dua pekan sekali mereka arisan. Biasanya yang pria saja, karena istrinya menjaga warung bersama nggotanya.

Saat arisan mereka membaca suroh Yasin, do'a dan zikir, selanjutnya dilanjutkan pembayaran uang arisan.

Arisan ini bayarnya satu juta Rupiah per orang. Jika anggotanya 40 orang maka yang menarik arisan mendapatkan Empat Puluh Juta Rupiah.

Agak Panjang pembahasannya ya, karena ini masalah uang hehehe.

Yang mendapat arisan tanpa cabut nomor, tapi siapa yg membutuhkan. misalnya ada toko yang mau bangkrut. maka ia dapat duluan, atau ada anggotanya yang sudah 5 tahun kerja dan mau buka warung baru, maka dia jadi prioritas. Bagi anggota lain yang belum dapat uang satu juta ini hanya dianggap uang pertemanan dan tidak ada yang mendesak mau duluan dapat.

6. Saling membantu dalam kesulitan. Biasanya yang paling dituakan dan sudah menjadi warga asli didaerah itu, baik dari segi bahasa dan gaya hidupnya sudah menyatu, atau tinggal sudah lebih dari 20 tahun diperantauan, akan membantu pendatang-pendatang baru dari kampung. Mencarikan warung baru atau disaat pesta pernikahan serta acara-acara besar.

7. Mereka menikah dengan perempuan dari kampungnya. Kebanyakan orang Mandailing ini jika menikah akan nikah dikampungnya atau sesama perantau dari Mandailing. Karena masakan Mandailing yang dominan pedas dan asin, tidak cocok dengan masakan orang di Jawa yang dominan manis. 


Alasan menikah dengan orang kampung juaga lebih hemat, karena saat dia bawa ke Jawa tidak tahu jalan kemana-mana. Akhirnya mereka fokus berjualan aja di warung. Paling diberikan Hp Android agar bisa video call dengan Keluarga dikampungnya.

8. Tidak perlu gaya hidup, Ke mall atau rekreasi sangat jarang. Paling setahun satu atau dua kali. Kecuali mereka yg sudah lahir di perantauan atau sudah mulai sukses. Atau mereka yang sudah tinggal lebih dari sepuluh tahun di Rantau. Kecuali anak-anak mereka sudah mengikuti orang-orang di perantauan.

Begitulah kehidupan dan pelajaran kita hari ini, dan biasanya hanya butuh waktu 10 tahun untuk sukses di perantauan. 5 tahun jadi anak buah, 5 tahun setelah buka warung sendiri dan punya anak buah. Biasanya tahun ke 15 sudah punya mobil, rumah, dan tanah di Kampungnya.

Oh iya, terakhir orang Mandailing biasanya Ganteng-ganteng, dan wanitanya cantik-cantik, tutur bahasa yang lembut dan Sebagian Soleh dan Solehah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel