-->

Forensik Kejiwaan Melalui Jejak Digital

Akun facebook bernama Alfin Andrian (facebook dot com/alfin dot andrian dot 353) dan Alfinandrian (dot facebook dot com/alfinandrian dot alfinandrian dot 167) kebanjiran klik dan komen. Kenapa? Karena ialah penusuk Syaikh Ali Jaber. Tak sedikit netizen yang rela scroll akun Alfin sampai tahun 2016. Termasuk saya.

Kenapa? Karena disebutkan (sementara) melalui beberapa kabar bahwa yang bersangkutan sudah 4 tahun gila. Dengan informasi tersebut, maka netizen pun mencoba mencari jejak kegilaannya melalui akun sosial medianya. Hasilnya? Saya sendiri merasa tak ada yang aneh dengan akun dan postingannya. Wajar saja. Tak ada arah bahwa dia sakit jiwa. Saya berani bilang begini karena sebelumnya pernah berteman dengan akun seseorang yang benar-benar sakit jiwa, jadi saya bisa menyimpulkan bahwa: beda feelnya ketika membaca akun normal dan akun sakit.




Dalam istilah hukum, ada yang disebut dengan psikologi forensik. Psikologi forensik adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari subyek dari segi kognitif, afektif dan perilaku dalam kaitannya dengan proses hukum. 


Psikologi forensik merupakan titik temu antara bidang psikologi dan bidang penegakan hukum. Berbeda halnya dengan psikolog klinis pada umumnya, psikolog forensik tidak memandang diri klien atau terdakwa dari sudut pandang si terdakwa itu sendiri, atau untuk ber-“empati”. 

Psikolog forensik justru ditugaskan untuk meneliti dan memastikan bagaimana tingkat kewarasan si terdakwa pada waktu melakukan tindak kejahatan. Pada kasus-kasus lainnya, seorang psikolog forensik dapat ditugaskan meneliti dan memastikan seberapa besar risiko seorang terdakwa pelaku tindak kejahatan dapat mengulangi lagi perbuatan tersebut.

Terkait hal tersebut, sang psikolog juga memberi informasi dan rekomendasi bagi keperluan vonis, keputusan mengenai masa percobaan, atau pembebasan bersyarat, termasuk di dalamnya seberapa besar kemungkinan pelaku kriminal tersebut dapat direhabilitasi.

Menurut saya, kini jejak digital akan masuk menjadi salah satu alat analisis seorang psikolog forensik.

Apa itu jejak digital?

Jejak digital adalah rangkaian unik aktivitas, tindakan, kontribusi, dan komunikasi digital yang dapat dilacak pada perangkat digital. Perangkat digital ini bisa jadi handphone, laptop, atau aplikasi berbasis cloud/internet (salah satunya sosial media). 





Ada dua klasifikasi utama untuk jejak kaki digital: pasif dan aktif. 

Jejak digital pasif adalah data yang dikumpulkan tanpa sepengetahuan pemiliknya (misal GPS yang tidak dimatikan oleh pemiliknya), sedangkan jejak digital aktif dibuat ketika data pribadi sengaja dirilis oleh pengguna untuk tujuan berbagi informasi tentang diri sendiri melalui situs web atau media sosial. 

Jejak digital mungkin sengaja atau tidak sengaja ditinggalkan oleh pengguna; dan bisa dikumpulkan secara pasif atau aktif oleh pihak lain yang berkepentingan. Bahkan jejak digital yang sengaja dihapus pun masih bisa dikembalikan dengan alat digital forensik jika memang mau dilakukan. Karena sekali jejak dibuat dalam bentuk digital, ada banyak cara untuk mengumpulkan bukti jika diperlukan.

Dan pagi ini lewat di beranda saya capture berisi komen seseorang yang mengaku tetangga Alfin Andrian. Tetangga tersebut menyebutkan bahwa Alfin tidaklah gila. So? Jika secara kasat mata, akun facebook Alfin tak menunjukkan kegilaan, dan tetangga juga menyatakan tidak gila sebagaimana informasi yang beredar, maka sudah saatnya petugas psikologi forensik yang maju ke depan dan membuktikan, benarkah Alfin gila. Jika tidak, tentu saja konsekuensi hukum yang ia terima akan berbeda.

Inilah dunia jaman sekarang. Dimana jejak digital dapat digunakan untuk melakukan forensik kejiwaan. Maka mari, berhati-hati dengan jejak digital. Semua terekam, sekalipun dihapus, mudah dikembalikan.


jika jejak digital saja bisa dikumpulkan untuk menjadi bukti persidangan, mudah sekali bukan bagi Allah untuk merekam jejak kita selama di dunia secara rinci oleh malaikat, untuk kelak dibuka di Hari Penghisaban? Mari jaga jejak kita, baik di dunia digital, maupun dalam kenyataan. Karena sungguh, semua yang kita lakukan, sekecil apapun kebaikan dan keburukan, semua terekam, dan akan kita pertanggungjawabkan.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel