-->

Resesi Ekonomi, Sepeda, dan Omnibus Law


cungkring.com : Ramai-ramai bahas soal resesi ekonomi ini tak lepas dari pengumuman dari Pemerintah Singapura yang mengumumkan negaranya sudah berada di Resesi Ekonomi. 

Apa itu resesi ekonomi? Meskipun saya bukan ekonom, tapi alhamdulillah masih diberi kekuatan serta keinginan buat baca-baca berita, bukan baca kritik-kritik menggelitik di media sosial yang lebih banyak hujatannya itu.

Resesi Ekonomi mudahnya terjadi ketika kondisi suatu negara yang perekonomiannya tumbuh negatif berturut-turut dalam dua kuartal. Satu kuratal itu 3 bulan. Kalau mau lebih jelas silahkan googling. Resesi ekonomi saat ini terjadi secara global, akibat dari Covid-19 yang benar adanya menghantam ekonomi global.

Kenapa Singapura lebih dulu mengalami resesi?

Resesi ekonomi selama pandemi ini kalau saya pribadi dipengaruhi oleh 2 hal. 

Pertama jelas, terkait dengan penyebaran covid di negara itu. You knowlah, Singapura termasuk negara tertinggi jumlah kasusnya di Asia Tenggara, meskipun saat ini sudah disalip oleh Indonesia. 

Kedua adalah soal PDB suatu negara. Singapura ditopang oleh perdagangan (ekspor). Sementara selama pandemi, ekspor di berbagai negara melambat. Ya wajarlah jika Singapura alami resesi terlebih dahulu.

Bagaimana dengan Indonesia?

Beda dengan Singapura. PDB Indonesia paling besar ditopang dari konsumsi domestik di kisaran 55-67 % PDB. Indonesia gitu loh. Negara besar dengan jumlah penduduk yang buanyak dan yang paling penting adalah sifat komsutif rakyat yang tinggi dipadukan dengan rasa iri serta gengsi yang 'wadaw', komsusi domestik menjadi penopang ekonomi selama berpuluh-puluh tahun. 


Nah, itu pula Pemerintah mulai menerapkan pelonggaran PSBB, why? Ya biar rakyat kelas menengah atas kembali merasakan nikamtnya jajan, shoping, belanja dan tak lupa pamer ke insta storynya. Percayalah, sifat komsutif, gengsi dan pamer yang tinggi secara tidak langsung membawa dampak baik kepada ekonomi nasional. So, tetaplah jadi komsumtif, kembalikan rasa gengsi dan gelorakan kembali pamer di media sosial.

Gak percaya? Sepeda buktinya!

Di tengah pandemi ini, ada fenomena luar biasa. Dengan alasan kesehatan, pesepeda semakin menjamur. Yah. Saya dah bilang, rakyat bangsa ini terkenal komsumtif, gengsian dan suka pamer. Ketika sepeda booming, kalangan menengah atas berlomba-lomba membeli sepeda. Harga sepeda naik berkali-kali lipat gak masalah. PHK kian banyak, bukan urusan gue. Yang penting gue masih punya uang, dan gengsi dong kalau gak ikut eksis. Begitulah kira-kira.

Duarr!! Media sosial dipenuhi pamer para pesepeda dengan sepeda barunya yang harganya bisa ditukar dengan berkwintal beras. Apa itu salah? Ya tidak. Biarkan mereka yang punya uang tetap seperti itu. Tetap menjaga gengsinya. Sebab itulah penopang utama ekonomi negeri ini. Yakin dah kalau bangsa ini kehilangan orang-orang semacam itu, ekonomi bangsa ini bakal koleps.

Mari serius dikit, kita bahas Omnibus Law.

Tahukah kamu bahwa beberapa hari terakhir ini demo penolakan Omnibus Law kembali bergeliat? Gak usah bilang kok gak diliput di tv, lah TV sudah dikuasai ruangguru dan Ruben Onsu yang anaknya menjadi pintar karena aplikasi anak bangsa itu. Jadi soal demo omnibuslaw ini, tidak banyak terekspose di tv. Kalau gak percaya, searching dah dengan kata kunci Demo Omnibuslaw.

Apa hubungannya Resesi Ekonomi dan Omnibuslaw?

Yaelah. Loe kagak tahu? Terus ngapain loe sok-sok an ngritik pemerintah? Ngapain sok-sokan ikutan nolak omnibuslaw? Mau numpang eksis gitu?

Omnibuslaw ini digadang-gadang menjadi solusi terbaik untuk menggenjot investasi pasca covid-19. Para ekonom, investor snagat berharap omnibuslaw ini disyahkan. Oleh sebab itu pula para penolak omnibuslaw terutama kaum buruh kembali bergeliat. Sebab alarm pengesahan omnibuslaw mulai kembali keras terdengar. Makanya bro, sesekali baca berita. Jangan cuma baca opini dan kritik recehan di facebook.


Jadi saya menebak, meskipun banyak ditolak, opsi mengesahkan omnibuslaw akan diambil pemerintah untuk menggenjot ekonomi dari sisi investasi.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Nah, ini neh paling asyik. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu pemerintah? Simpel bos. Tetaplah berbelanja, tetaplah komsumtif, tetaplah gengsi dan jangan lupa pamer. Ok?

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel