-->

Mengapa Sekolah Masih Ditutup?


cungkring.com : Beredar meme yang membandingkan fasilitas umum (mal, tempat wisata dll) yang sudah dibuka dan sekolah yang masih ditutup. Tergelitik untuk berkomentar juga akhirnya setelah sekian hari menahan jari.

Mas Menteri itu sayang sama anak-anak. Jutaan anak usia PAUD-SMA berada di zona merah, oren dan kuning, bahkan hitam. Kan bisa jaga jarak, pakai masker, cuci tangan dan segala protokol kesehatan lain bisa diusahakan. Yaa ga semudah itu Markonah, semua perlu dipersiapkan dan diadakan. Wastafel, sabun cuci tangan, masker dll, sebelumnya banyak sekolah ga punya, bikin dulu, beli dulu, diadakan dulu... Itu baru fasilitas penunjang protokol kesehatan, belum yang lain.

Yang paling penting soal penerapan kedisiplinan. Yakin anak-anak bisa jaga jarak, ga towel-towel temannya? Saya ga yakin... Nah oleh karena itu perlu disounding dan diedukasi mulai sekarang di rumah. 


Satu kelas dibatasi, hanya bisa diisi oleh beberapa siswa, oleh karenanya meja diatur sedemikian rupa sehingga berjarak 1,5 - 2 meter. Lha gedung sekolahnya ga cukup. Wong biasa diisi 30an siswa per kelas, kudu dipisah jadi beberapa kelas. Njut mau pakai gedung apa?
Sampai di situ wis mumet. 


Kan bisa pakai sistem shift, datang bergantian, pintu masuk dan keluar dibedakan. Belum siap. Pintunya satu, gurunya terbatas. Guru juga punya jam kerja terbatas, apa mau nongkrong di sekolah dari pagi sampai malam?
Tambah mumet kan?

Guru, penggerak utama di sekolah. Guru dengan usia lebih dari 45 tahun itu jumlahnya buaaaanyaaak, yang punya penyakit bawaan juga buaanyak. Paksakan mereka ngajar tatap muka? Apa ga ada yang lebih nekat? Jumlah guru terbatas. Kalau sesuai aturan, guru dengan usia 45 tahun ke atas dan punya komorbid ga boleh ngajar. Pastinya akan terjadi defisit guru yang siap mengajar tatap muka. Dah, sampai sini paham belum?

Siswa, guru dan personel sekolah lainnya juga punya keluarga. OTG bertebaran di mana-mana, ga terdeteksi. Gimana dengan anak-anak yang di sekolah bertemu banyak orang, perjalanan pergi dan pulangnya pun ga ada jaminan bakal ga ketemu virus, ga ada jaminan mereka bukan carrier.

Negara tidak mau ambil risiko munculnya kluster baru, nakes sudah kewalahan, banyak RS kolaps. Kebijakan untuk tetap belajar dari rumah sudah dipikirkan masak-masak, keputusan beberapa kementrian yang tentu saja banyak ahli yang terlibat di dalamnya. Bukan asal-asalan, urusan nyawa lho ini.

Wis to, manut sama pemerintah demi kebaikan bersama. Tapi kan repot kalau harus belajar dari rumah. Repot mana, belajar dari rumah atau kena virus dan masuk RS?

Lha tapi kenapa mall dan tempat wisata dibuka? Banyak tuuh anak-anak di sana? Siapa suruh anak-anak ke mall atau ke tempat wisata? Hayoo jawab....

Anjuran IDAI anak-anak paling aman berada di rumah saja.

Ga ada yang diuntungkan dengan keadaan ini, guru juga sedih, rindu ingin bertemu dengan siswa, mengajar langsung di kelas-kelas, berjalan normal seperti dulu.
Tapi corona mengajarkan kita semua untuk bersabar, siswa, guru, orang tua, semua harus bersabar.

Guru-guru sedang berpacu mempersiapkan model pembelajaran yang seru dan mudah diikuti meski di rumah saja. Dan itu ga mudah yaaa, emangnya goreng bakwan, lima menit jadi.

Ga ada negara yang siap menghadapi situasi ini. Begitupun sektor-sektor penting di dalamnya. Yang bisa dilakukan hanya berupaya agar dampaknya bisa diminimalisir. Termasuk di dunia pendidikan, prioritas utama adalah keselamatan anak-anak, ilmu bisa didapat dari mana saja. Kurikulum juga dirombak, dibuat fleksibel, adaptif dan tidak memberatkan.

Kuatkan doa agar wabah ini segera diangkat, agar semua kembali normal seperti semula.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel