-->

Jangan Dulu Buka Sekolah Kami


cungkring.com : Sementara di dunia Bikini Bottom dimana Spongebob Squarepants suka berburu ubur-ubur, penduduknya nggak berhenti menuntut sekolah dibuka meski kasus Covid19 masih tinggi.

“Pembelajaran daring ini nggak efektif! Boros kuota! Kasian yang nggak mampu!”.

Sejujurnya kita justru harus lebih kasian dengan orang-orang yang masih nggak sampe pemahamannya soal kenapa kita harus memindahkan sekolah anak-anak di rumah!

Soal kuota, pembelajaran tidak efektif, merepotkan, itu memang bagian dari apa yang harus kita hadapi bersama. Jangankan pembelajaran daring, situasi normalpun kita bisa me-list daftar problem kok. Jadilah problem-solver, jangan berhenti jadi problem-talker. Ada banyak alternatif yang bisa ditempuh agar anak-anak tetap bisa belajar, tidak harus daring.


Kebetulan di sekolah anak-anak kami mekanisme daring dan luringnya berjalan dengan baik, anak-anak belajar tiap hari dengan jadwal yang teratur dengan pemberian materi melalui berbagai video pembelajaran oleh para guru sesuai mapel yang dibuat dengan berbagai aplikasi video maker, lalu interaksi melalui berbagai platform (Google Meet, Zoom, Whatsapp), pemberian tugas dan monitoring amal yaumi melalui Google Forms. 

Namun jika fasilitas tidak memadai, tentu ada 1000 jalan menuju Rhoma! Guru mau datang door to door seperti di beberapa daerah? Orangtua mau antar jemput materi dan tugas ke sekolah? Anak-anak gantian datang ke sekolah dengan waktu terbatas untuk pemberian materi lalu mengerjakan tugas di rumah? Tetaplah kreatif dan positif, intinya dengan cara apapun anak-anak tetap BISA BELAJAR!

Sisihkan alokasi budget skincare ibu atau rokok bapak menjadi investasi wifi untuk pembelajaran online anak-anak. Untuk kalangan yang benar-benar nggak mampu bahkan HP pun nggak ada, kemukakan ke sekolah untuk mendapat keringanan agar anak bisa diberikan tugas secara manual seperti contoh-contoh diatas. Yang penting, modal MAU!

“Anak-anak nggak betah di rumah! Bosan! Anak-anak mau ketemu teman-temannya!”.

Anak-anak kita nggak akan mati kalo nggak ketemu teman-teman! Anak-anak nggak akan sampai bunuh diri karena udah lama nggak ke mall! Dan percayalah anak-anak juga nggak mendadak turun IQ nya dari normal menjadi idiot karena belajar dilakukan daring!

Itu anak-anak kita, pak, bu, maka buatlah agar dia betah berada didekatmu. Jika anak-anak merasa lebih suka diluar rumah, apa yang salah dengan bonding kita ke anak? Lakukan sounding, bahwa kita bukan stuck at home, kita safe at home!

“Tapi anak-anak jadi kebablasan main HP!”.

Susah memang kalo sejak awal kita ga pernah menerapkan aturan di rumah. Kita ini orangtua anak bukan pembantunya anak! Kita yang ngatur anak, bukan anak yang ngatur dirinya sendiri sehingga pasti kebablasan. Anakpun perlu kontrak perjanjian dengan kita, kapan bisa pakai HP, aplikasi apa saja yang boleh didownload, termasuk mengontrol apa saja yang anak-anak akses dari Youtube via sidak dan pengecekan history secara teratur. Anak indispliner terhadap kontrak, berikan sanksi. Atur, bukan kita yang diatur!

“Tapi Covid19 ini dibesar-besarkan! Ini konspirasi! Kita dihantui oleh ketakutan entah sampai kapan!”

Saya pengen cubit ginjal orang yang ngomong begini nggak pake mikir. Tanpa dibesar-besarkanpun pandemi ini memang sudah besar! Sedikit-sedikit nuduh konspirasi, sedikit-sedikit konspirasi. Jangan-jangan besok kucing tetangga ditabrak mobil dia akan bilang “Ini pasti konspirasi!!”. Datanglah ke pemakaman khusus pasien Covid dimana sudah ribuan nyawa dimakamkan disana agar melek, agar hati tidak dipenuhi oleh rasa skeptis yang melalaikan.

Kita bicara faktual saja dari ahlinya, jangan dari kita yang bukan ahlinya tapi merasa sudah sangat paham situasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merilis data sudah ada 3.064 anak (0-17 tahun) positif C19, dan PDP lima ribuan anak. Dan catat lanjutannya, “Jika sekolah dibuka, berarti  60 juta anak sekolah, diperlukan 50% anak yang sakit untuk herd immunity. 


Jika kita ambil mortalitas Indonesia sekarang 2,5%-5%, ambil tengahnya saja 3% berarti ada 30 juta yang akan sakit dan sekitar 1 juta anak yang mati karena herd immunity tanpa vaksin seperti saat ini. Anak siapa yang akan sakit 30 juta ini, anak siap yang akan meninggal 1 juta ini? Bagi kami, satu saja anak meninggal itu sudah masalah”. 

(Sumber: wawancara dengan Ketua IDAI dr. Aman Pulungan pada Kabar Petang TV One, 2 Juni 2020). Tidakkah kita merinding, jika dokter anak yang tidak mengenal anak-anak kita, segitu pedulinya jika ada anak yang sakit, mengapa kita santai dan menganggap, “Ah terlalu dibesar-besarkan!”. Apakah harus menunggu itu kejadian pada diri kita sendiri dulu, baru kita merasa itu besar?

Ada perbedaan antara takut dan waspada! Takut tidak harus rasional, waspada adalah hal yang rasional. Dan bersikap waspada itu bagian dari ikhtiar, dan itu wajib bagi tiap mahluk Tuhan!

“Mengapa mall dan tempat wisata sudah buka, tapi sekolah tidak! Emangnya virus Cuma nyebar di sekolah?”

Mall, pasar dan tempat wisata bukanlah sebuah tempat yang wajib didatangi oleh anak-anak! Dan dibukanyapun untuk memutar lagi roda perekonomian yang sudah sangat terpuruk. Ketua Tim Gugus Tugas C19 menyebutkan bahwa, “Sekolah akan dibuka paling akhir karena penularannya paling tinggi sedangkan dampak ekonominya paling rendah”.

“Tapi ini pembodohan! Sekolah ditutup adalah sebuah kemunduran dunia pendidikan tau nggak! Mau jadi apa wajah pendidikan bangsa!”.

Duh, Maryam. Sayapun peduli pendidikan, kuliah saya sampai doktorpun jurusannya pendidikan, pekerjaan saya belasan tahunpun di pendidikan. Tapi 100% saya lebih peduli anak saya sehat daripada pintar tapi sakit-sakitan, 100% lebih suka anak saya aman daripada bisa belajar maksimal di sekolah tapi tau-tau terinfeksi virus, Naudzubillah minzaalik.  


Apa ada yang lebih penting dari menjaga diri kita dan anak-anak agar selamat dan sehat lahir batin, Pak, Bu? Get real, pendidikan adalah kesempatan yang kita punya seumur hidup, namun pandemi insyaAllah tidak akan berlangsung selamanya.

Apakah ketakutan kita akan anak kita tertinggal secara akademis telah melebihi harapan kita agar terus menyaksikannya tetap sehat? Duh. Benarkah kita peduli pada mereka? Atau peduli pada ego kita sendiri untuk melihat anak-anak yang pintar, tetap maksimal pembelajarannya, dan mengabaikan haknya yang lain yaitu hak untuk hidup selamat dan sehat?

Pernah kan Pak, Bu, anak kita demam dan tidak ceria melakukan apapun? Gimana rasanya? Merana hati kita melihat anak yang biasanya ceria dan pecicilan, mendadak tergolek lemah dan selalu menggeleng saat ditanya mau apa. Bukankah anak-anak yang sehat adalah rezeki yang tak ada bandingannya apalagi sekedar soal kesempurnaan akademis?

“Kaya orang ga beriman aja, semua itu takdir, usia juga takdir!”.

Duhai saudaraku yang imannya paling pol.

Kita belajar lagi konsep qodho dan qodhar. Pahami lagi bahwa takdir itu bukan sesuatu yang gifted! Takdir itu sesuatu yang ditentukan Allah namun ada bagian pekerjaan kita disitu. Ditakdirkan menjadi dokterpun kita harus belajar keras, tidak serta merta apatis, “Kalo udah takdirku jadi dokter, nggak usah capek-capekpun aku akan lulus kedokteran!”. Lalu saat beneran tidak lulus, kitapun tidak mengambil pelajaran dengan berkata, “Udah takdir!”. Ya pastilah takdirnya nggak lulus, usaha aja nggak ada, Maemunah!

“Tapi orangtua repot! Capek! Stress harus jadi guru dirumah, kerjaan udah banyak dan keteteran!”

Memang lelah, Pak, Bu.. Kaki jadi kepala, kepala jadi kaki saat kita harus jadi mendampingi anak-anak schooling from home karena kerjaan kita sudah cukup banyak. Sayapun merasakan betul, sebagai ibu pekerja, suami ada di kota lain, punya 2 anak yang sekolah di rumah, tidak ada pembantu rumah tangga hingga urusan domestik saya handle sendiri, harus jumpalitan menjalankan semua peran dari hari kehari. 


Ada saat-saat saya dimana saya harus ekstra melakukan working from home ketimbang working from office terutama di pagi hari karena jadwal schooling from home anak-anak formalnya dari pukul 07.30 -11.00. Di jam-jam ini anak-anak akan banyak harus difasilitasi untuk zoom meeting, Google meeting, menyaksikan video-video pembelajaran yang diunggah guru-gurunya, dan mengerjakan tugas meski untuk tugas durasi mengumpulkannya fleksibel hingga pukul 21 malam. 

Belum lagi amal yaumi-nya yang harus dikontrol mulai dari sholat, tilawah, murojaah dan lain-lain. Seringkali saya harus salto sambil kayang sekaligus karena berkejar-kejaran dari mapel satu ke mapel lain, sambil saya sendiripun mengajar pelatihan untuk guru via zoom dan Google Classroom dengan jadwal padat merayap. Mau encok dan pegal linu tiap hari sambil diri sendiripun harus jaga kesehatan jangan sampai drop (karena saya punya thyroid disorder yang seringkali menyebabkan extreme fatigue). 

Tapi saya mau melakukannya karena percayalah akan sangat sakit hati perasaan rasanya.. jika anak kita sakit. Akan sangat sakit rasanya, jika Naudzubillah kita harus merelakan anak kita masuk ruang isolasi, tanpa bisa kita urusi lagi keperluannya, karena harus diambil alih tim medis!

Anak kedua saya pernah masuk “ruang isolasi” bernama NICU (Neonatal Intensive Care Unit) saat baru lahir. Tidak ada yang setara dengan rasa sakitnya. Bayangkan harusnya kamu yang ada disana, memeluk anak kamu dalam dekapanmu, tapi dia harus disana tanpa kamu boleh masuk karena ruangan serba steril. 


Harusnya kamu ada disana menyusui anakmu, tapi kamu harus membiarkan anakmu minum ASIP lewat sendok yang diberikan suster. Harusnya kalian berbagi kehangatan tubuh, tapi kamu harus sadar membiarkan anakmu dihangati oleh sinar biru dari boks sempit dengan mata ditutup.

Bagimana rasanya Bu, jika anak kita harus mengalami hal yang lebih seram dari itu karena terinfeksi Covid19? Karantina di RS, tanpa kamu dan siapa-siapa disisinya? Yang jika biasanya jika dia memanggil, kita langsung datang. Biasanya jika dia meminta susu hangat, kita cepat membuatkannya. 


Biasanya jika dia mau tidur, kita kelonin hingga dia terlelap dengan nyaman. Ada nyamuk satu saja, dengan geram kita tabok nyamuknya. Kedinginan sedikit saja, kita turunkan AC dan benarkan selimutnya. Dan lalu dia tiba-tiba harus tinggal sendirian di ruang isolasi, tanpa kita tau apa dia kedinginan? Apa dia lapar dan makan cukup banyak? Apa dia suka makanan yang disiapkan di RS? Ngapain aja dia? Berapa kali sehari dia menangis? Berapa kali sehari dia menyebut nama kita berharap kita datang namun kita tetap tidak bisa masuk ke kamarnya?

Nggak, nggak usah dibayangkan!

Melihat kasus anak balita terinfeksi Covid dan dijemput tim medis dengan APD lengkap saja sudah memilukan, tidak usah dibayangkan itu misalnya anak kita. Tidak. Membayangkannya saja saya tidak mau.

Maka mari Bapak, Ibu, kita benarkan mindset kita, kita turunkan sedikit standar kita tentang pendidikan anak-anak kita yang harusnya begini dan begitu, dan kita berdoa semoga masa pandemi ini benar-benar berlalu dan kita termasuk orang-orang yang survive. 


Jika saat itu tiba, bersekolahlah yang puas, kalo perlu sekolahkan anak di hari Senin dan pulangnya hari Kamis. Main sama teman-temannya 24 jam kalo perlu nginep di rumah temannya dan nggak usah tidur. Datang ke tiap inci sudut mall di kota kita jangan ada yang terlewat. Nanti. Untuk sekarang, ikhlaslah dengan perjuangan kita menyekolahkan anak di rumah. Nggak usah merasa lebih paham dari ahli bidang kesehatan dan pandemic, nggak usah suka ngeyel kaya Squidward tetangganya Spongebob!

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel