-->

Gagal Paham Menangkap Narasi Klepon Tak Islami


cungkring.com : Apa-apa kalo ditarik dan bumbui kata yang sensitif memang tambah gurih dan pedas. Macam klepon ini, salah satu jenis olahan dan produk nusantara yang lezat lagi sederhana. Di kami, cemilan ini lumrah dijual dan dikonsumsi. Lebih mantap ditemani kopi yang masih hangat nan mengepul.

Yang buat polemik itu bukan klepon-nya, tapi narasi yang tak Islami itu. Sampai saya telaah, banyak yang menyanggah pada kata "tak Islami itu", hingga uringan tak karuan.


Saya berpikir: apa memang sejauh itu narasi klepon itu?
Ya, mungkin saja sih. Tiap orang kan boleh berasumsi, dan kalo semua pada tak sepakat juga kagak salah.

Cuma bagi saya, terlalu berlebihan kalau disikapi macam itu. Narasi itu-- kalau mau serius digali arahnya itu pada realitas sosial keagamaan kita yang sering gaduh.

Seakah si pembuat narasi itu tengah memancing emosi: "eih tong, gak semua yang dari negeri sendiri itu tak Islami. Klepon itu vulgar tapi tak masalah, kan dia makanan bukan sifat, bid'ah banget. Tapi hasanah! Insya Allah tayyib."

Esensi narasi itu satire pada mereka yang masih kukuh "mengaku paling Islami" tapi gagal memahami agenda urgen ummat beragama. Sampai di sini, banyak yang gagal paham memahami narasi itu, padahal arahnya bukan untuk mendiskreditkan Islam, tapi teguran pada sebagian Umat yang masih belum dewasa dalam beragama.

Kita hari ini tengah berjuang dan berhaarap izzah Islam terasa sejuk di paru-paru dunia. Wajah Islam yang macam mana kita tunjukkan tergantung sikap kita. Apa hati-hati buat statment atau mudah buat blunder, dengan alibi: aku paling paham Islam dan mereka main-main dengan syariat.

Doaku sih, atas polemik klepon itu akan mendongkrak pendapatan penjual klepon di mana saja, utamanya mereka yang jualan keliling mengumpulkan rupiah sambil teriak klepon agar cepat kaya dan bagus ilmu serta akhlaknya.
Islam butuh orang kaya dermawan lagi menyejukkan agar eksistensi terus hidup.

Ini hanya asumi penulis. Harapnya buat kita mikir, terkadang apa yang kita sangka buruk belum tentu aslinya begitu.
Tak harus sependapat, sepaket ya mangga! Wallahu 'alam.

0 Komentar

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel